Kenaikan BBM ternyata menimbulkan berbagai polemik di masyarakat. Ada yang pro ada yang kontra, seperti biasa ini kan yang selama ini diidamkan Bangsa kita. Kebebasan berpendapat dan menyuarakan aspirasi asal itu semua dalam koridor hukum yang berlaku. Negara kita ini negara hukum toh.. Bukan Negara Barbar.. Yah seperti yang sudah kita lihat di media massa, mahasiswa pada awalnya menyuarakan aspirasinya dengan damai. Di jakarta, di Jogja, di Manado, di Surabaya para mahasiswa turun ke jalan. Dengan damai tentunya. Itu semua terjadi sebelum Pemerintah menaikkan harga BBm secara resmi. baru hanya sekedar siap-siap menaikkan istilahnya. Sampai akhirnya, sesuatu yang tidak diharapkan itu datang juga. Pemerintah akhirnya secara resmi menaikkan BBM dan akan melaksanakan pembagian BLT.
Ah, saya tidak ingin meributkan lagi, apakah BBM itu harusnya naik atau tidak? Saya bukan orang pintar, saya hanya rakyat biasa. Pemerintah lah yang harusnya tahu apakah BBm perlu naik atau tidak..
Yang terjadi selanjutnya adalah mahasiswa mulai melakukan demonstrasi yg sifatnya anarkis dan sudah di luar koridor hukum.. Mahasiswa bakar ban dijalan. Jalan ditutup seenaknya. Maksud hati ingin membela kepentingan rakyat, tapi kenyataannya justru merugikan masyarakat.. Tapi, sebagai seorang mahasiswa juga, saya mengerti sekali mengapa mereka begitu marah dengan kebijakan Pemerintah yang terkesan seenaknya sendiri.. Sebagai mahasiswa, kita dituntut oleh masyarakat untuk selalu bersikap kritis terhadap kebijakan Pemerintah. Kita ini agen perubahan.. Kita ini ibarat termometer masyarakat.. Kalau masyarakat panas, kita juga ikut panas.. Itulah yang selama ini para mahasiswa rasakan dan itu telah merasuk ke dalam hati sanubari para mahasiswa..Oleh sebab itulah para mahasiswa turun ke jalan, meminta Pemerintah menoleh kan sedikit pandangan ke arah mereka.. Sayang seribu sayang selama ini Pemerintah tidak pernah mau mendengarkan teriakan-teriakan para mahasiswa.. Para mahasiswa itu bisa kok diajak berdialog.. Diberi tahu dengan jelas mengapa BBM harus naik? Mengapa program BLT harus dilaksanakan? Bayangkan jika jubir presiden yang namanya Andi Malarangeng itu turun ke jalan, datangi mahasiswa dengan baik-baik, ajak mereka berdialog, rangkul mereka, posisikan mereka sebagai intelektual…? Mahasiswa akan merasa dihargai pendapatnya, dan mungkin malah akan mendukung Pemerintah.. Tapi kan kenyataannya tidak.. SBY hanya mengumumkan kenaikan BBM secara resmi dan terlalu formal sifatnya. Terlalu normatif dan terkesan cuek dengan polemik yang sudah terjadi. Belum lagi media massa yang dalam berita-berita yang mereka siarkan sifatnya hanya seperti mengadu domba antara Pemerintah dengan rakyat.. Media tidak pernah memberikan solusi. Tidak juga berusaha menenangkan rakyat, justru terus membesar-besar kan polemik yang ada demi keuntungan mereka sendiri.. Supaya beritanya laku. Supaya iklan deras mengalir.
Kalau sudah begini yang terjadi adalah kebuntuan komunikasi.. Mahasiswa semakin marah. Sudah tidak pernah diajak ngomong, berdialog sama Pemerintah.. Di buat semakin panas lagi oleh media. Mereka jadi merasa tidak punya jalan lain selain bersifat anarkis.. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? SBY malah memerintahkan para polisi untuk bersikap tegas kepada para mahasiswa yang bersikap anarkis..
Bayangkan jika seorang anak kecil yang ngambek minta dibelikan mainan, tapi Ibunya nyuekin anak itu dan tidak pernah menjelaskan bahwa ia tidak punya cukup uang untuk beli mainan.. Lantas si anak terus merengek.. Tapi si ibu malah menyuruh pembantunya untuk menjewer anak itu.. Apa yang terjadi? Ya jelas si anak itu akan melampiaskan amarahnya kepada si pembantu…. Pembantu juga akan kesal kepada si anak, karena dia hanya menjalankan perintah si Ibu.. Lantas lagi, si ayah malah manas-manasi si anak dan pembantu untuk terus bertengkar.. Gila kan?
Nah, persis seperti itulah yang terjadi beberapa hari ini.. Terjadi kebuntuan komunikasi antara Pemerintah dan Mahasiswa…Hanya karena pemerintah yang bersikap cuek dan tenang-tenang saja.. seolah-olah mahasiswa hanya segerombolan orang bodoh yang bisanya cuma berteriak-teriak saja, jadi tidak perlu diajak berdialog..
Sekarang polemik terus bergulir.. Mahasiswa vs Polisi. dua-duanya sama-sama rakyat Indonesia. Diperkeruh lagi sama media yang kemarin masih membela mahasiswa karena Polisi masuk kampus UNAS. Dan hari ini membela Polisi karena ada polisi yang ditendangi mahasiswa Moestopo.. Entah besok media akan membela siapa.. Mereka akan berdalih, bahwa kami media massa hanya menyajikan realita yang ada.. Bull shit.
Entah apa yang terjadi esok? entah bagaimana ending dari semua polemik ini? Semua serba buram..
Mei 28, 2008 pada 12:32 pm
Nice Blog
Please visit me back
And Tukeran Link Yukk