Musim 2007-2008 ini tak bisa dipungkiri lagi adalah milik Manchester United setelah mereka berhasil mengalahkan Chelsea lewat adu penalti dalam pertandingan final liga champions yang begitu dramatis. Gelar ini melengkapi gelar juara liga premier inggris yang telah diraih satu minggu sebelumnya. Benar-benar satu musim yang membuat seluruh fans MU di seluruh dunia puas dan bahagia, termasuk saya tentunya. Menurut saya ada beberapa kunci yang membuat MU begitu superior musim ini.
Komposisi Pemain
Dari segi komposisi pemain, kekuatan MU musim ini ada pada lini depan dan belakang. Kedua lini tersebut menjadi kunci pada dua kompetisi yang berbeda. Lini depan memegang kunci pada kompetisi liga inggris. Komposisi pemain depan MU musim ini terdiri dari Christiano Ronaldo, Wayne Rooney, Carlos Tevez. Mengapa Ronaldo saya anggap sebagai pemain di lini depan? Kalau kita lihat permainan Ronaldo di liga Inggris musim ini, dia lebih banyak beroperasi sebagai penyerang sayap untuk melaksanakan serangan balik kilat khas MU. Dia tidak banyak mengumpan, atau memberi assist. Dan justru menjadi topskor di liga Inggris dengan 31 gol. Banyak pihak yang menyebut dia adalah pemain sayap. Itu juga tidak salah. Tetapi khusus di liga Inggris dia lebih cocok disebut penyerang sayap.
Lalu ada Wayne Rooney dan Carlos Tevez. (Louis Saha buat saya tidak memberikan kontribusi untuk musim ini, karena cedera sepanjang musim)
Pada awal musim, sebenarnya saya sempat meragukan komposisi lini depan MU, karena kesamaan karakter antara wayne rooney dan carlos tevez. Keduanya bukan penyerang murni yang selalu beroperasi di kotak penalti seperti Nistelrooy, Barbatov atau Torres. Bandingkan dengan komposisi MU musim lalu, dimana masih ada Henrik Larsson, Solskjaer, serta Saha yang belum cedera. Namun, ternyata komposisi yang ada ini sudah cukup untuk menguasai (lagi) Liga Inggris. Semua itu bisa terjadi karena performa luar biasa yang ditunjukkan oleh Christiano Ronaldo. Yah, rasanya saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar bagaimana Ronaldo bermain di Liga Inggris. Dia punya semua yang dibutuhkan untuk menjadi penyerang hebat di Liga Inggris. Dia sangat cepat, licin, punya akselerasi luar biasa, dan mampu menyelesaikan peluang sekecil apa pun. Wayne Rooney dan Carlos Tevez ternyata juga mampu menjadi pasangan yang serasi. Mereka hebat dalam melakukan umpan satu-dua cepat untuk membuka peluang. Jika dibandingkan dengan klub-klub pesaing, jelas MU juga lebih unggul. Liverpool hanya mengandalkan Fernando Torres. Peter Crouch hanya baik untuk momen-momen tertentu. Dirk Kuyt lebih banyak beroperasi sebagai sayap kanan. Dan Babel baru beradaptasi dengan liga inggris. Arsenal juga begitu, hanya mengandalkan Adebayor. Van Persie dan Adebayor cedera sejak pertengahan musim. Bertner baru beradaptasi dengan Liga Inggris. Sedangkan Chelsea mungkin klub yang paling gagal dalam belanja pemain musim ini, kalau kita lihat permainan Anelka dan Pizarro.
Adapun lini belakang memegang kunci pada kompetisi Liga Champions. Komposisi lini belakang MU musim ini sebenarnya tidak luar biasa, namun mengalami perkembangan yang cukup pesat jika dibandingkan musim lalu. Terdiri dari Wes Brown, Rio Ferdinand, Nemanja Vidic, Patrice Evra, Gerrard Pique, John Oshea. Duet tembok Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic menjadi kunci dari hebatnya performa lini belakang MU musim ini. Merka sama-sama kuat, punya keseimbangan tubuh hebat, tehnik defense kelas dunia, dan mental yang tangguh. Di Liga Inggris, mereka tidak terlalu kesulitan karena ketimpangan kualitas yang besar antara MU dan klub-klub lainnya. Paling-paling mereka sedikit bekerja keras jika berhadapan dengan Chelsea, Arsenal, dan Liverpool. Nah, di Liga Champions peran Rio dan Vidic mulai terasa sejak kompetisi memasuki babak knock-out. Seringkali MU berada dalam kondisi tertekan ketika berhadapan dengan Lyon, Roma, Barcelona, dan Chelsea karena lini tengah tidak mampu mengontrol permainan dan menjaga tempo. Namun klub-klub tersebut tetap saja tidak mampu mencetak gol karena duet Rio-Vidic selalu menutup dan menggagalkan peluang-peluang yang ada. Tentu saja saya tidak dapat mengabaikan peran kiper Edwin Van Der Sar yang hebat dalam penempatan posisi. Serta Wes Brown dan Patrice Evra yang matang pada saat yang tepat.
segi taktik
Di Liga Inggris, musim ini MU tidak mengalami kesulitan dalam memainkan taktik dan skema permainan andalan mereka. Kita semua tahu, MU selalu bermain dengan cepat dan tidak berlama-lama dalam menguasai bola dan membangun serangan. Nah, di Liga Inggris taktik ini begitu mudah untuk dieksekusi karena memang klub-klub lain juga bermain dengan gaya yang sama, dengan kualitas pemain yang timpang. Klub-klub Liga Inggris terbiasa melakukan taktik bertahan dengan melakukan pressing dan off-side trap yang dilakukan hampir sepanjang pertandingan. Klub-klub liga Inggris tidak terbiasa dengan taktik bertahan deep seperti yang biasa dimainkan oleh klub-klub Italia. Tentu saja hal ini dengan mudah dieksploitasi dengan maksimal oleh Ronaldo, Wayne Rooney, dan Carlos Tevez yang ketiganya punya kecepatan dan dribble speed yang luar biasa.
Di liga Champions terutama di babak-babak knock-out, taktik serangan balik cepat yang biasa dimainkan MU di liga Inggris tidak terlalu berjalan mulus. Karena klub-klub yang berhadapan dengan MU, terutama Lyon dan Barcelona sudah mengetahui rahasia untuk mematikan serangan MU. Mereka tahu MU hanya punya gelandang tengah yang kaku dan sulit berkreasi jika langsung ditekan, maka mereka pun menumpuk pemain di lini tengah, dengan 3 gelandang tengah yang punya kemampuan man marking yang hebat. Mereka juga sudah tahu MU banyak mengandalkan kecepatan dan penetrasi Ronaldo dalam menyerang, maka mereka menempatkan 4 bek mereka untuk selalu stay di lini belakang dan tidak melakukan jebakan off-side. Alhasil MU tidak terlalu menguasai permainan di Liga Chamnpions, namun tetap dapat meraih kemenangan. Disinilah lini belakang MU mengambil perannya. Ketika MU dalam kondisi tertekan dan diserang terus, lini belakang MU tidak memberikan ruang yang cukup bagi pemain lawan untuk mendapatkan peluang emas. Mereka hanya dapat melakukan tendangan-tendangan dari jarak jauh atau melakukan umpan-umpan lambung yang sebenarnya tidak biasa mereka mainkan. Alhasil ketika lini tengah dan lini depan terus menyerang namun tidak kunjung dapat menciptakan gol, hal ini memancing dua bek sayap untuk ikut membantu serangan. Dan hasilnya pada saat mereka lengah, MU dapat menyerang balik lewat umpan direct yang tidak terduga.
Kejelian Pelatih.
Kemampuan Sir Alex Ferguson dalam membentuk tim dan meracik taktik MU sudah tidak perlu diragukan lagi. Dalam membentuk tim, ia selalu menyusun terlebih dahulu taktik yang akan dia gunakan untuk masa-masa yang akan datang , baru menentukan pemain yang akan dibeli. Dia tidak seperti pelatih lain yang baru memikirkan taktik dan strategi yang akan dipakai untuk musim selanjutnya pada saat transfer window dibuka.
Misalnya, dulu pada saat ia menemukan seorang David Beckham, ia segera mencari pemain yang handal dalam melakukan heading, dan pilihan jatuh kepada Dwight Yorke, lalu Van Nistelrooy. Ketika Becks pergi dan Ronaldo masuk, ia segera menjual Van Nistelrooy pada musim selanjutnya, karena ia tahu Ronaldo bukan seorang “pelayan” seperti Becks. dan Van Nistelrooy tidak cocok jika bermain dengannya. Tentu saja ia memilih untuk mengutamakan Ronaldo karena ia masih muda dan punya prospek yang cerah. Maka ia pun mencari pemain yang dapat mengimbangi permainan cepat Ronaldo,didatangkanlah Wayne Rooney pada musim 2004 dan Carlos Tevez pada musim ini. Jadi artinya komposisi, bentuk, strategi MU pada musim ini sudah tergambar dalam otaknya pada 2-3 musim yang lalu, dan komposisi tim saat ini tidak akan banyak berubah sampai 4-5 tahun ke depan (kecuali giggs, saha yang kemungkinan akan pergi). Setiap MU bermain sepanjang musim ini , ia selalu menentukan strategi yang sudah “sempurna” dari awal dan jarang merubah arah dan gaya permainan di tengah-tengah pertandingan. Yang dia lakukan hanya mengganti pemain dan uniknya dia selalu punya pemain yang jadi super-sub. Dulu dia punya Solskjaer, sekarang dia punya Fletcher, yang beberapa kali menciptakan gol penting dan Park Ji Sung yang terkadang menjadi pemecah buntunya serangan.
Harmonisnya kondisi tim
Semua pemain yang berada dalam first team musim ini bisa dikatakan memiliki perannya masing-masing, dan tidak saling bersaing terlalu ketat untuk mendapat tempat utama di starting eleven. Para pemain cadangan seperti Fletcher, O’Shea, Park, Nani, Pique, Andersson tahu kapasitasnya masing-masing dan tidak pernah menuntut untuk dimainkan secara reguler. Mereka selalu tampil baik jika diturunkan. Mungkin dari awal musim Alex Ferguson telah memberi tahu peran mereka masing-masing dalam tim, dan hebatnya Ferguson mampu menunjukkan kepada mereka bahwa mereka bisa jadi penentu hasil akhir pertandingan jika diturunkan dalam kondisi yang tepat. Ini berbeda dengan klub-klub lain yang memiliki kualitas pemain yang semuanya berstatus bintang sehingga persaingan berjalan terlalu ketat. Kalau sudah begini, yang terjadi adalah konflik antar pemain itu sendiri, dan itu membuat permainan tim menjadi tidak konsisten. Barcelona bisa dijadikan contoh mengenai hal ini. Terlalu banyak pemain bintang, malah jeblok di akhir musim.
Yah ini sih cuma pendapat pribadi saya saja, bisa jadi tidak obyektif karena saya memang fans MU. Ini sekedar refleksi saja dari musim yang panjang dan mendebarkan.
Hah, saya jadi teringat lagi dengan atmosfir tadi malam saat saya menonton pertandingan final liga Champions di dixie. kami para fans MU langsung berteriak sangat keras, ketika John Terry melebar, dan puncak kegembiraan kami adalah saat Van Der Sar berhasil memblok tendangan Anelka,kami langsung melompat-melompat, mengepalkan tangan ke atas lantas menyanyikan lagu Glory..Glory Man utd..
Glory, glory, Man United,
Glory, glory, Man United,
Glory, glory, Man United,
As the reds go marching on, on, on.
Just like the Busby Babes in Days gone by
We’ll keep the Red Flags flying high
You’ve got to see yourself from far and wide
You’ve got to hear the masses sing with pride
United! Man United!
We’re the boys in Red and we’re on our way to Wem-be-ly
Wem-be-ly! Wem-be-ly!
We’re the famous Man United and we’re going to Wem-ber-ly
Wem-be-ly! Wem-ber-ly!
We’re the famous Man United and we’re going to Wem-ber-ly
In Seventy-Seven it was Docherty
Atkinson will make it Eighty-Three
And everyone will know just who we are
They’ll be singing ‘Que Sera Sera’
United! Man United!
We’re the boys in Red and we’re on our way to Wem-ber-ly
Wem-be-ly! Wem-ber-ly!
We’re the famous Man United and we’re going to Wem-ber-ly
Wem-be-ly! Wem-ber-ly!
We’re the famous Man United and we’re going to Wem-ber-ly
Glory Glory Man United
Glory Glory Man United
Glory Glory Man United
As the Reds Go Marching On! On! On!